 | Category: | Books | | Genre: | Other | | Author: | Tere Liye |
Terbayangkah Anda, seorang anak manusia melarung kenangan-pahit cinta dengan menyusuri puluhan ribu mil samudera selama lebih dari 1513 hari? Jim, seorang pemain biola, tertikam sesal mendalam karena kehilangan Nayla. Dia selalu gagal melupakan kepengecutan membayar janji kepada gadis pujaannya itu. Dalam selubung rasa putus asa, bersalah, dan tak berharga sebagai lelaki, bertemulah Jim dengan Sang Penandai, pembuat dan penjaga dongeng-dongeng. Dia pun terpandu melaut ke negeri-negeri Timur. Bersama Armada Kota Terapung di bawah pimpinan Laksamana Ramirez, Jim yatim-paitu yang dibesarkan oleh dermawan kota, si miskin-papa yang hanya pintar memainkan biola, pemuda yang terlalu pengecut untuk melawan takdir hidupnya-mengubah diri menjadi sosok penting dalam ekspedisi ke Tanah Harapan. Bertempur dengan para perompak legenda perbatasan benua, singgah dan mendaki lereng Puncak Adam, dan menjadi pahlawan dalam perang saudara di negeri Champa, semua dia lalui sembari bergulat dengan hantu masa lalunya. Di ujung kisah, Jim menamatkan pelajaran berharga tentang "menjadi pencinta sejati" dan "berdamai dengan masa lalu".
***
I love this book!! Kupikir, ide ceritanya sangat menarik, juga penuh inspirasi. Bisa dibilang, novel ini m'hibur tp tetap penuh muatan. Dua jempol!!
Aq baru kali pertama baca karya mas Tere Liye, kukira Sang Penandai ini karya terjemahan, eh t'nyata bukan. Keren!
Hal menarik lain, penulisnya cukup misterius! Hehe.. 
 Michelle Paver lahir Malawi; ayahnya berasal dari Afrika Afrika Selatan dan ibunya berasal dari Belgia. Keluarga ini pindah ke Inggris ketika dia kecil dan tinggal di Wimbledon hingga sekarang. Setelah lulus dari Oxford dalam bidang biochemistry, dia menjadi pengacara dan kini menjadi partner dari salah kantor pengacara besar di kota itu dengan spesialisasi dalam patent litigation.
Kini ia menghabiskan waktu untuk menulis THE CHRONICLES OF ANCIENT DARKNESS. Beberapa buku yang telah diterbitkan di Indonesia di antaranya, Wolf Brother (April 2006), Spirit Walker (Oktober 2006), Soul Eater (2007), dan OutCast (April 2008). Kesemuanya diterbitkan oleh penerbit Matahati. 
 | Category: | Books | | Genre: | Literature & Fiction | | Author: | Alan Lightman |
Suatu dunia gaib, adikodrati, menawan, penuh pesona, dan gairah (Michiko Kakutani, New York Time)
Pernah ga sih kamu mimpi berada di sebuah di dunia yang begitu aneh, karena 'waktu' di sana tidak seperti 'waktu' di dunia kita sekarang? Kurasa, pertanyaan ini bahkan lebih membingungkan untuk dijawab daripada jawaban itu sendiri..
Tapi, seseorang pernah mengalaminya. Ya, di banyak malam sejak 14 April 1905 hingga 28 Juni 1905 ia selalu bermimpi tentang dunia dengan waktu yang aneh. Tampaknya ia memang teramat penasaran dengan misteriusnya waktu, sehingga ia harus melewati banyak tidur-malamnya dengan mimpi-mimpi unik tentang waktu. Tentu saja, karena ia adalah Albert Einstein! Meskipun pada masa itu ia masih seorang juru ketik di kantor paten, namun ia sudah hampir menyelesaikan teori relativitasnya.
Nah, kira-kira seperti itulah gambaran umum dari novel unik karya fisikawan Amerika, Alan Lightman. Novel ini berjudul “Mimpi-mimpi Einstein” atau “Einstein’s Dream” dalam versi aslinya.
Novel kecil ini memang menyajikan mimpi-mimpi menakjubkan Einstein, yaitu selama ia menjalani masa-masa menentukan ketika ia hendak merampungkan teorinya. Dalam kajian psikologi, ketika seseorang sedang melalui situasi yang cukup berat terutama berat bagi pikirannya, amatlah mungkin bahwa pikiran-pikirannya itu menguasai bawah sadarnya, hingga saat ia tidur semua muncul menampilkan diri dalam wujud mimpi. Dan Lightman tampaknya memang ingin menggambarkan hal tersebut. Karena dongeng-dongeng mimpi Einstein ini merupakan hasil sulapan Lightman dari beberapa teori tentang waktu.
Banyak hal menarik yang kita dapat saat membaca novel ini. Bagiku sendiri, kisah-kisahnya nan unik dan menggelitik amatlah menggoda. Sajian bahasanya yang cukup indah memberikan nuansa tersendiri saat membacanya, membuat kita selalu nyaman untuk meninkmati tiap ceritanya. Acungan jempol bagi penerjemah yang mampu mempertahankan keindahan narasi tersebut.
Satu hal lagi yang paling menarik dari novel ini bagiku; penulis bisa saja seorang fisikawan. Begitupun isinya, bisa saja bertemakan isu fisika paling serius di abad ini. Tapi, para pembaca awam fisika tetap bisa mengapresiasi bacaan ini dengan nikmat. Lebih dari itu, mereka (semestinya) dapat mengambil life lesson yang sangat berharga dari tiap kisah yang ada. Terutama tentang bagaimana seseorang menyikapi misterius dan otoriternya sang waktu. 
 | Category: | Books | | Genre: | Mystery & Thrillers | | Author: | Dorothy & Thomas Hoobler |
Jepang abad ke-18 zaman Tokugawa. Seikei Konoike, seorang anak pedagang berusia empat belas tahun, ingin menjadi seorang samurai. Namun, sistem feodal pada masa itu tidak memungkinkan orang berpindah kasta.
Sebuah batu rubi yang akan dipersembahkan Tuan Hakuseki kepada Shogun menghilang ketika ia menginap di Tokaido. Analisis Seikei tentang kejadian tersebut menarik perhatian Hakim Ooka, orang yang bertugas menyelidiki kasus itu. Hakim Ooka pun mengajak Seikei untuk membantu penyelidikan.
Sekaranglah kesempatan Seikei untuk menjadi seorang samurai. Mampukah Seikei menempuh jalan samurai? Bisakah kasus tersebut diungkap? Petualangan pun dimulai. Ternyata ada kisah lain dan rencana pembalasan dendam di balik kasus tersebut...
***
Plotnya membangun klimaks yang menarik sekaligus dramatis. Semua aksinya berada dalam konteks era Tokugawa di mana Jepang diperintah oleh seorang kaisar dan shogun, kala mempertahankan harga diri berada di atas segalanya. —School Library Journal
Misteri yang dibangun dengan intrik yang memikat, berujung pada klimaks yang memuaskan. Kaya akan atmosfer serta detail budaya Jepang... —Booklist
Penuh petualangan, menyuguhkan potret Jepang di era Shogun. Sungguh sebuah novel yang luar biasa. —Kirkus Reviews
Buku yang sangat bagus bagi pembaca muda penyuka misteri... —The Asian Reporter’s Book Review
Bacaan yang sangat bagus, ceritanya kuat dan penuh petualangan. —Amazon.com
Ceritanya unik dan dituturkan dengan sangat baik. —Barnes&Noble
Novel ini amat menyenangkan untuk dinikmati. —Goodreads.com
Pada tahun 1735, di Jalan Tokaido, hidup seorang bocah Jepang berusia empat belas tahun berubah drastis. Eksotis dan menarik... —Parents’ Choice 
    | Dream | Jan 6, '09 12:29 AM for everyone |
 | Category: | Books | | Genre: | Other | | Author: | Joannes Rhino |
Anita, seorang wanita 35 tahun, hidup di dua dunia secara bersamaan; dunia nyata dan dunia mimpi. Di salah satu dunianya, ia adalah seorang ibu dari dua anak yang mendiami sebuah kota kecil, Magelang. Di dunianya yang lain, ia menjadi seorang wanita karier di Jakarta dan menjalin hubungan dengan pria bernama Michael.
Awalnya, sangatlah menyenangkan hidup di kedua dunia itu secara bersamaan, karena apa yang tidak didapatkannya dari dunia yang satu, bisa didapatkannya dari dunia yang lain. Namun, seiring berjalannya waktu, Anita tak lagi bisa membedakan mana dunia nyata dan mana yang hanya mimpi. Apakah karier dan kehidupan percintaannya dengan lelaki pujaannya di Jakarta hanya khayalan? Atau, keluarganya di Magelang adalah mimpi semata?
Anita akhirnya sadar bahwa ia dihadapkan pada sebuah kesempatan kedua; sebuah kesempatan lain untuk mengakhiri masa lalu yang belum berakhir. Tapi, tetap saja ia tak bisa membohongi hatinya yang hancur berantakan saat menyadari kenyataan itu. Ia tak bisa berpura-pura seakan berbagai macam peristiwa yang berlangsung tidak benar-benar terjadi. Anita hanya bisa berharap andai saja dirinya dapat tidur lebih lama lagi... 
 | Category: | Books | | Genre: | Other | | Author: | Terry Pratchett |
'Crivens!'
Penyihir tulen tak pernah sembarangan meninggalkan tubuhnya dalam keadaan kosong. Tiffany yang berusia sebelas tahun melakukannya. Dan ada sesuatu yang menunggu untuk menyambar sosok tubuh yang bisa diambil alih.
Sesuatu yang kuno, mengerikan, dan tak bisa mati ...
***
Topi Selebar Langit merupakan novel kedua Terry Pratchett tentang Tiffany dan Pria Cilik Merdeka. Segerombolan peri yang paling kasar, tangguh dan bau. Mereka gemar bertarung. Akan tetapi, kekuatan mereka mungkin tak cukup untuk menyelamatkan Tiffany...
***
Gak kalah seru ma buku yg pertama, also a must-read-book!! - Fauzi 
 Terry Pratchett sold his first story when he was thirteen, which earned him enough money to buy a second-hand typewriter. His first novel, a humorous fantasy entitled The Carpet People, appeared in 1971 from the publisher Colin Smythe. Terry worked for many years as a journalist and press officer, writing in his spare time and publishing a number of novels, including his first Discworld novel, The Color of Magic, in 1983. In 1987 he turned to writing full time, and has not looked back since. To date there are a total of 36 books in the Discworld series, of which four (so far) are written for children. The first of these, The Amazing Maurice and His Educated Rodents, won the Carnegie Medal. A non-Discworld book, Good Omens, his 1990 collaboration with Neil Gaiman, has been a longtime bestseller, and was reissued in hardcover by William Morrow in early 2006 (it is also available as a mass market paperback (Harper Torch, 2006) and trade paperback (Harper Paperbacks, 2006). Terry's latest book, Making Money, was published in September 2007 and was an instant New York Times and London Times bestseller. In 2008, Harper Children's will publish Terry's new standalone non-Discworld YA novel, Nation.
Regarded as one of the most significant contemporary English-language satirists, Pratchett has won numerous literary awards, was named an Officer of the British Empire “for services to literature” in 1998, and has received four honorary doctorates from the Universities of Warwick, Portsmouth, Bath, and Bristol. His acclaimed novels have sold more than 45 million copies (give or take a few) and have been translated into 33 languages.
Terry Pratchett lives in England with his family, and spends too much time at his word processor. 
 | Category: | Books | | Genre: | Other | | Author: | Terry Pratchett |
Sebuah Kisah Tentang Dunia Khayal baru
Ada masalah di pertanian keluarga Aching�mimpi-mimpi buruk menyebar turun dari atas bukit.
Dan adik laki-laki Tiffany Aching diculik. Untuk menemukan adiknya kembali, Tiffany melengkapi diri dengan sebuah panci penggorengan, buku mantra milik neneknya (sebetulnya sih buku Penyakit-penyakit Domba)�dan kaum Nac Mac Feegle, para Pria Cilik Merdeka, manusia cilik berkulit biru yang gemar berkelahi dan mencuri, yang diusir dari Negeri Dongeng karena suka mabuk dan sulit diatur ....
***
Banyak hal yang bisa membuat kita tertawa. Pratchett lihai mengubah 90 derajat hal-hal biasa menjadi istimewa. - The Times
Sebuah contoh jelas dari sebuah cerita khayalan yang klasik dan tentu saja ... Crivens! Novel ini layak terwujud sejuta buwah. - Sunday Express 
 | Category: | Books | | Genre: | Mystery & Thrillers | | Author: | Peter Blauner |
Satu Pembunuhan Tak Pernah Cukup
Baginya, membunuh adalah candu terkuat, hasrat terluhur, ekspresi cinta termanis...
1983: Allison Wallis, seorang dokter muda, ditemukan tewas mengenaskan di dalam apartemennya di Manhattan. Detektif Francis X. Loughlin menangani kasus ini. Ini adalah kasus besar pertamanya. Kecurigaan tertuju pada Julian “Hoolian” Vega, anak pengawas gedung apartemen Allison. Hoolian adalah seorang pelajar sekolah Katolik, penggemar fiksi-ilmiah berusia tujuh belas tahun. Francis berhasil menyeret Hoolian ke penjara. Kasus pun ditutup.
2003: Francis menjelang masa pensiunnya dan terancam mengalami kebutaan. Di penghujung kariernya itu, ia kembali menangani kasus besar. Lagi-lagi pembunuhan seorang dokter wanita muda. Korban kali ini pun memiliki kemiripan fisik dengan Allison Wallis. Kebetulan, Hoolian saat itu telah bebas dan bekerja di daerah TKP. Awalnya ini tampak seperti kasus mudah, sampai kemudian diketahui fakta bahwa DNA pembunuh yang ditemukan di bawah kuku korban adalah DNA Allison Wallis—korban pembunuhan 20 tahun lalu!
Detektif Francis X. Loughlin berusaha menuntaskan kasus ini untuk selamanya. Sebelum ia mengalami kebutaan, sebelum sang pembunuh beraksi kembali... 
 | Category: | Books | | Genre: | Other | | Author: | Haruki Murakami |
Kafka Tamura merupakan gambaran lain dari sosok Oedipus, Raja Thebes yang mengawini ibu kandungnya. Sejak Kafka masih belia, ayahnya telah menorehkan ramalan, lebih tepatnya kutukan, pada dirinya bahwa dia bakal membunuh ayahnya, serta meniduri ibunya. Sementara Nakata, lelaki tua aneh yang hilang separuh “bayangannya” adalah wujud semu dari Kafka. 
 | Category: | Books | | Genre: | Other | | Author: | Scott Smith |
Sejumlah arkeolog menghilang tanpa jejak di sebuah situs reruntuhan kuno suku Maya di Meksiko. Enam orang turis ikut tertarik untuk menuju ke situs itu. Mereka tidak tahu ada sesuatu yang menunggu mereka di sana. Sesuatu yang bisa menghantarkan mereka pada kematian…
***
Empat orang turis Amerika—Eric, Jeff, Amy, dan Stacy—berlibur di Cancun, Meksiko. Di sana mereka berteman dengan Mathias yang berkebangsaan Jerman dan Pablo yang berasal dari Yunani. Mathias mengajak mereka bertualang melintasi hutan menuju sebuah situs reruntuhan kuno peninggalan suku Maya guna menyusul adiknya yang ikut bersama rombongan arkeolog ke sana.
Namun sesampainya di situs misterius itu, bukannya menemukan rombongan arkeolog, mereka malah menerima ancaman dari suku Maya setempat yang akan membunuh mereka jika mereka meninggalkan situs tersebut. Dan tanpa mereka sadari, sesuatu yang mematikan mengintai mereka di sana. Sesuatu yang menikmati ketakutan dan keputusasaan mereka… yang hendak menghabisi mereka secara perlahan dan menyakitkan, satu demi satu...
**Pujian-pujian**
Novel yang paling menggelisahkan tahun ini... —Time
Pembaca akan merasa ikut terperangkap dalam keputusasaan... —The Washington Post
Sebuah kisah yang sangat menakutkan... —USA Today
Smith sukses membuat pembaca ketakutan setengah mati. —Entertainment Weekly
Menciptakan atmosfer kengerian dan plotnya sungguh memikat. —Publishers Weekly
Novel ini bukan untuk yang lemah jantung... —The New York Post
Salah satu novel yang paling menakutkan, mengerikan, dan menegangkan... —The Sun-Sentinel
Novel yang tanpa ampun, mirip dengan kehidupan nyata... —Salon
Smith menumpuk kengerian di atas kengerian di atas kengerian... —The Daily News
Lebih menakutkan ketimbang thriller... —Bookmarks Magazine
Novel suspense yang bergerak laju, mencengkeram Anda tanpa mau lepas... —The Cleveland Plain Dealer
Akhirnya sungguh sempurna dan tragis. —School Library Journal 
| Category: | Books | | Genre: | Other | | Author: | Lewis Perdue |
SEBUAH karya sastra memang tak semestinya ditulis berdasarkan fakta, apalagi hanya sekadar merekam peristiwa sejarah yang pernah terjadi di masa lampau. Karena pada dasarnya fiksi merupakan capaian ikhtiar pengarang meniti jalan berkelok dalam menerobos "relung-relung" sejarah, juga realitas. Tak pelak, kalau "jalan peniruan" itu yang kemudian dipilih atau ditempuh, tidak mustahil, karya sastra yang lahir tak ubahnya sebongkah foto hasil jepretan kamera. Indah dan menggugah, tetapi kurang bisa mematik kesadaran pembaca untuk berpikir kritis.
Tapi novel Deadly Triangle (aslinya berjudul The Da Vinci Legacy; 1983) karya Lewis Perdue ini termasuk perkecualian. Meski sebagaimana diakui pengarang yang kini tinggal di Sonoma, California ini ditulis berdasarkan fakta sejarah, Perdue tetap tak terjebak pada setumpuk bahan literer "sejarah yang bisu" melainkan dapat melangkah lebih jauh, menyeruak di balik bilik peristiwa juga melampaui realitas dan lorong-lorong masa lalu yang nyaris tidak terekam sejarah.
Jika diibaratkan, sejarah merupakan kisah tentang pertumpahan darah orang yang membunuh, mencuri, dan bahkan melakukan berbagai hal di tengah lautan. Tak mustahil, apa yang terjadi di tepian laut justru luput dari perhatian. Nah, Perdue melalui novel ini dapat diibaratkan menulis kisah mengenai apa yang terjadi di tepian laut tersebut.
Kisah yang terjadi di tepi laut itu dituturkan oleh pengarang dengan jalan membuka lapis demi lapis "lingkaran maut" The Elect Brothers (kelompok biarawan keturunan St. Peter), Nazi, GRU (intelejen kemiliteran Rusia), dan Vatikan dalam memperebutkan naskah kuno karya da Vinci. Awalnya, Kingsbury membeli sebuah naskah kuno Leonardo dari keluarga Caizzi. Saat Vence Erikson --sarjana da Vinci yang dipercaya Kingsbury-- mengamati dengan cermat, ternyata ia tahu naskah kuno da Vinci itu dipalsukan.
Sontak, Kingsbury dan Vance ingin mengetahui "isi dari naskah yang hilang" itu, serta mencari tahu di balik pemalsuan tersebut. Tapi, saat Vance menyelidiki lebih jauh, dia justru dihadang berbagai peritiwa aneh. Tiga orang ahli da Vinci yang mau ditemui justru meninggal dunia dan ia bahkan menjadi target pembunuhan. Dari petunjuk yang ditulis Martini, satu dari tiga ahli da Vinci yang terbunuh, Vance kemudian terbang ke Italia. Jalinan kisah pun jadi berbelit, karena Vance selalu diburu oleh sekelompok orang yang tidak jelas beralifiasi di pihak mana.
Alhasil, novel ini selain menghibur dapat dipastikan juga menyentak kesadaran pembaca.***
*) n_mursidi, cerpenis asal Lasem, Jateng. Kini tinggal di pinggiran Jakarta. resensi ini dimuat di Suara Merdeka, Minggu 28 Oktober 07
| Category: | Books | | Genre: | Nonfiction | | Author: | Naomi Susan |
Inilah buku yang menantang adrenalin kita untuk membolak balik pola pikir pembacanya.. . bahasanya yang unik, nyleneh, kadang ngawur dan campur baur Inggris dan Indonesia, justru jadi kekuatan dari buku ini untuk mempengaruhi pembaca.. agar berani dan nekad serta mau dan mampu mengelola sisi negatif nya... Anda berani?
ada pula komentar menarik dari seorang seniman ahli monolog, Butet Kertaredjasa. Saat membaca buku ini, ia mengatakan pada penulisnya, "Wah..bahaya, hati-hati membaca buku ini, kalau tidak siap mental. Bisa-bisa tersesat ke jalan yang benar..."
Komentar slenge'an juga muncul dari mantan presiden kita Gus Dur. "Daripada menimbulkan fitnah, mending baca aja buku ini...Gitu aja kok repot!" Tak ketinggalan, sang host Kick Andy di Metro TV, Andy F. Noya juga ikut berkomentar, "Saya suka baca buku-buku aneh. Buku ini salah satunya. Layak disimak.."
Tak urung, bahkan sang master ESQ, Ary Ginandjar pun gatal untuk ikut berkomentar. "Buku ini akan mengubah paradigma dalam menghadapi hal negatif," ujarnya dengan senyum yang khas. Komentar bernada menyejukkan oleh Ary Ginandjar ini bertolak belakang dengan apa yang disampaikan Purdi E. Chandra, pengusaha pemilik Primagama Grup. "Buku ini akan mengakibatkan "kegilaan"!! ! Tapi itu dibutuhkan oleh orang yang nekad pengen sukses"
Begitulah, berbagai komentar saat orang membaca buku ini. Dan memang, buku ini
barangkali adalah satu-satunya yang berani mengklaim untuk menjadi Be Negative!
Background
Inilah buku nyleneh, unik, tapi powerful, yang ditulis berdasar pengalaman dan pengamatan yang dialami oleh seorang bernama Naomi Susan. Sebagai seorang wanita, ia punya banyak keterbatasan.
Namun, dengan keyakinan kuat, perjuangan tanpa henti, dalam usaha mengejar semua impian dan membalik semua omongan negatif, Naomi Susan berhasil mencapai titik di mana dia mampu mewujudkan semua harapannya. Tak mudah tentu, perjuangan yang dilakukannya. Namun, dengan kepolosan dan keluguan (baca: kejelian dan kegigihan), ia mampu membalik segala hal negatif yang mampu menghambat semua impiannya, menjadi daya dorong yang justru mampu mengungkit semangatnya, hingga akhirnya dapat membantu mewujudkan cita-citanya.
Satu kata yang cukup sering disebut dalam buku ini adalah gagal atau kegagalan. Satu hal negatif yang bisa jadi setiap orang pernah mengalaminya. Jika dipahami dengan sudut pandang yang berbeda, seperti yang disebut Naomi dalam berbagai pengalamannya, kegagalan bisa dimaknai sebagai proses belajar. Ada menang, ada kalah, dimaknai dalam buku ini sebagai ada menang, ada belajar. Begitu seterusnya. Dengan pola pikir dan cara pandang yang demikian, membuat semua hal negatif tidak lagi perlu ditolak mentah-mentah, namun, tinggal justru bisa kita kelola agar jadi hal negatif namun efektif.
Inilah kekuatan dan inti yang diungkap dari buku yang cukup melawan mainstream ini. Naomi Susan yang pernah jatuh, gagal, bangkrut dengan menggunakan pola sikap negatif namun efektif, telah mampu memutabalikkan semua peristiwa negatif menjadi daya dorong yang luar biasa untuk terus berkarya, hingga mampu menularkan semangat itu dalam buku nyleneh, unik, namun powerful ini.
Kumpulan catatan mantan orang gagal yang terus belajar dari semua kegagalannya ini akan membuat pembaca buku ini digiring pada mindset (pola pikir) yang baru. Yakni, bahwa menikmati atau menjalani semua hal negatif, dengan cara pandang yang berbeda, akan membawa kita pada jalan yang lebih matang dan mantab untuk mencapai semua impian kita. Jadi, siap-siaplah terkaget-kaget dengan dampaknya...be negative, but effective!
| Category: | Books | | Genre: | Entertainment | | Author: | Nora Ephron |
Apa yang bisa kita lakukan pada leher kita? Kita bisa mewarnai rambut, mengencangkan kulit wajah, menambah implan, atau melakukan sedot lemak. Tapi leher? Leher wanita tak bisa bohong. Tidak ada yang bisa kita lakukan pada leher kita.
Bagaimana dengan tas? Tahukah kau bahwa ada jenis tas yang membuat kita tampak sepuluh tahun lebih tua dari usia kita? Dan coba tengok tasmu. Apakah tasmu kini telah berubah menjadi kuburan barang-barang bekas pakai—lipstik tanpa tutup, bungkus tisu dan permen, sisir yang sudah lama kau anggap hilang, kotak bedak yang isinya tinggal separo? Lalu, apa yang harus kau lakukan?
***
Dengan cerdas dan jenaka, Nora Ephron menuturkan suka-duka menjadi wanita. Bukunya ini telah dibaca oleh jutaan orang di seluruh dunia. Menjadi "bacaan wajib" para wanita yang tidak ingin menyesali hidup mereka, walau tetap harus memiliki leher...
| Category: | Books | | Genre: | Mystery & Thrillers | | Author: | James Rollins |
Fakta: Laboratorium Nazi di Breslau, Polandia, bulan Mei 1945, di penghujung Perang Dunia II. Pasukan Rusia menemukan tempat itu telah dikosongkan. Enam puluh dua ilmuwannya telah ditembak mati. Hasil penelitiannya, dengan sandi die Glocke atau the Bell, telah lenyap tanpa jejak.
Di masa kini, di sebuah kuil terpencil di Himalaya, para biarawan tiba-tiba berubah menjadi gila dan seperti kanibal. Darah dan potongan-potongan tubuh tercecer di mana-mana. Di dada seorang biksu ditemukan sayatan Swastika—simbol Nazi.
Di Kopenhagen, Denmark, misi rahasia Sigma Force untuk menemukan Injil peninggalan Charles Darwin, berujung pada sabotase mematikan. Sementara di Zululand, Afrika Selatan, seorang ilmuwan dibunuh secara brutal oleh makhluk misterius yang dijuluki oleh para penduduk setempat sebagai Ukufa—Kematian...
***
Peristiwa-peristiwa tersebut terkait dengan mimpi Adolf Hitler untuk menciptakan ras manusia super yang mengungguli ras-ras manusia lainnya. The Bell, alat yang diciptakan untuk mewujudkan mimpi itu, harus segera ditemukan. Bila sampai jatuh ke tangan yang salah, dunia akan berada di ambang kehancuran...
***
Digagas berdasarkan fakta oleh seorang master thriller, novel ini tak pelak menjadi sebuah novel yang amat menegangkan sekaligus kontroversial. Mengangkat kisah tentang sebuah misteri yang jika terpecahkan akan bisa menjawab banyak pertanyaan tentang kemanusiaan… tentang asal-usul kehidupan...
| Category: | Books | | Genre: | Biographies & Memoirs | | Author: | Marita Conlon-McKenna |
TAK ada satu pun wanita di dunia ini yang mau menderita lantaran api cinta. Tapi pesona cinta kerapkali membuat kaum hawa sering lupa akan penderitaan yang ditanggung jika dia terpeleset asmara dan hamil di luar nikah. Padahal kaum hawa harus menanggung derita yang tak terkira. Ia tak saja sakit hati terhadap kekasih yang pergi melainkan juga ditimpa tudingan sebagai "wanita nakal". Lebih tragis, keluarga yang seharusnya jadi pelindung --tak jarang-- justru menjatuhi hukuman! Nasib tragis akibat hamil di luar nikah itulah yang dialami Ester Doyle sebagaimana dikisahkan Marita Conlon-McKenna dalam novel The Magdalen ini. Diangkat dari kisah nyata kehidupan Ester Doyle, gadis asal Irlandia, yang menjalani hukuman tragis karena dikucilkan keluarga ke Magdalen Laundry dan diperlakukan seperti budak, tentu cerita novel ini memilukan, mengandung pesan moral serta pelajaran berharga bagi pembaca. Dilahirkan di daerah terpencil di Carraig Beag, Connemara, (bagian Barat Irlandia), Ester Doyle adalah gadis yang lahir dengan lilitan derita. Lahir dari keluarga (nelayan) miskin, nyaris membuat Ester harus kerja keras membantu ibunya; mengurus rumah, memasak dan mengasuh adiknya apalagi setelah ayahnya meninggal dunia saat ia berumur 13 tahun. Tapi derita itu masih kuat ditanggung Ester. Ia menganggap itu adalah jalan hidup yang harus dijalani. Penderitaan yang nyaris tak terbayangkan oleh Ester ketika ia harus menjalani hukuman akibat hamil di luar nikah. Kala Ester tumbuh dewasa dan mengenal lawan jenis, ia jatuh cinta terhadap Conor O`Hagan. Diam-diam, ia sering menemui Conor dan melakukan hubungan badan. Buah dari kecerobohan Ester itu membawa petaka. Ia hamil. Conor tak mau bertanggung jawab. Demi uang, Conor pun memilih menikahi Naula McGuiness, majikannya yang berumur lebih tua. Tak ingin menanggung malu, keluarganya membawa ke Magdalen di Dublin daripada digunjing tetangga sebagai hukuman yang pantas diterima Esther. Magdalen dikenal sebagai "tempat rehabilitasi" yang diperuntukkan bagi wanita nakal; seperti pelacur, gadis yang hamil di luar nikah juga gadis malang yang menjadi korban inses dan pemerkosaan --yang didirikan sebagai "tempat penebusan dosa". Karena dianggap berlumur dosa, maka di Magdalen itu Ester diperlakukan seperti budak dipaksa kerja di binatu dengan imbalan makan sekadarnya dan tak diberi upah. Meskipun dalam kondisi hamil, Ester tetap tidak mendapat makanan bergizi. Bahkan, ia harus bangun pagi untuk misa subuh, sarapan, lantas bekerja di binatu. Bersama para maggie (sebutan untuk penghuni Magdalen) yang lain, ia diperlakukan seperti tahanan. Tak diijinkan keluar, bahkan menerima tamu pada jam kerja. Lebih tragis, saat dia melahirkan, anak haram itu pun tidak menjadi anak Esther. Seperti wanita lain di Magdalen, para biarawati menganggap Esther bukan sebagai ibu yang baik karena itu, anaknya dititipkan di panti asuhan Haly Saints dan hak Esther sebagai ibu pun dirampas. Tak mau hidup terus di Magdalen yang mirip penjara, maka dia mengirim surat pada keluarga di kampung. Esther lalu dijemput bibinya, Patricia O`Malley. Tetapi, Esther tak mau jauh dari anaknya. Pasca dari Magdalen, ia memilih tinggal di Dublin. Ia tak mau menghadapi hidup bersama keluarga. Dia sudah bertekat menjadi Magdalena, tak mau bersembunyi di Magdalen --seperti Detta, Bernice dan para meggie lain-- untuk memalingkan diri dari kehidupan. Esther memilih melupakan masa lalu dan memulai kehidupan baru. *** MEMBACA The Magdalen ini, saya teringat klimaks novel Burned alive yang ditulis Souad (nama samaran) yang menceritakan kisah nyata yang dialami setelah ia hamil di luar nikah dan keluarga Souad memutuskan membunuhnya atas nama kehormatan keluarga. Tetapi, nasib Esther yang tidak mendapat hak sebagai ibu, nyaris mirip akhir kisah novel Gadis Pantai karya Pramoedya yang kehilangan hak asuh anak yang dilahirkan gadis pantai. Padahal, gadis pantai itu dinikahi secara sah dan setelah melahirkan, ia diceraikan dan tak memiliki hak bahkan untuk sekadar menjenguk anaknya. Sebagaimana novel Burned alive dan Gadis Pantai, novel The Magdalen inipun membawa pesan tentang perjuangan perempuan atas nasib tragis yang kerapkali diterima lantaran ia lahir sebagai kaum hawa. Lebih tragis, di balik dalih kebenaran agama juga tradisi justru tak jarang "hukuman yang buruk" terhadap kaum hawa yang hamil dan hak ibu ternyata tidak memihak kaum perempuan. Padahal, agama seharusnya jadi pencerah bagi kehidupan bukan mencelakai nasib perempuan. Tak salah, pengarang asal Iralandia yang mendapat "kesuksesan # 1 national bestseller" untuk novel ini, mengangkat kisah nyata ini tak lain untuk menguak tabir bisu di balik tembok Magdalen atas penderitaan yang dialami warga Magdalen untuk dapat dijadikan "pelajaran" bagi peradaban. (N. Mursidi, cerpenis dan pengelola blog http://etalasebukuku.blogspot.com)
| Category: | Books | | Genre: | Nonfiction | | Author: | Norah Vincent |
Bertualang Menjadi Lelaki
Judul : Female Undercover Penulis : Norah Vincent Penerjemah : Soemarni Penerbit : Dastan Books Cetakan : I, 2007 Tebal : 512 Halaman
BUKU ini memaparkan kisah petualangan Norah Vincent--seorang wanita, jurnalis--yang menyamar menjadi seorang laki-laki. Dengan modal potongan rambut pendek, kacamata, bulu wajah, penis palsu, serta setelan lelaki, selama satu setengah tahun Norah berubah menjadi lelaki tanpa ketahuan! Selama delapan belas bulan itu Norah mengganti namanya menjadi Ned dan berusaha menjadi "lelaki sejati". Ned melakukan segala macam aktivitas lelaki. Dia bergabung dengan liga boling khusus lelaki, kencan dengan para wanita, bekerja sebagai salesman dari pintu ke pintu, nongkrong di klub-klub striptease, bahkan tinggal di biara selama tiga minggu!
Sebuah petualangan yang mengagumkan dan memprovokasi pikiran. Banyak cerita lucu sekaligus serius, cerdas sekaligus menghibur. Dia menemukan bahwa sebenarnya dunia lelaki itu jauh lebih baik-- sekaligus jauh lebih buruk--daripada apa yang dibayangkan oleh kebanyakan perempuan. Demi melakukan risetnya ini, Norah Vincent rela melepaskan pekerjaannya sebagai kolumnis opini di Los Angeles Times. Karyanya itu telah diliput oleh sejumlah radio dan televisi, serta muncul di berbagai media cetak seperti The New Republic, New York Post, The Village Voice, dan The Washington Post. Buku yang menarik untuk dibaca.
Pygmalion adalah seorang pemuda yang berbakat seni memahat. Ia sungguh piawai dalam memahat patung. Karya ukiran tangannya sungguh bagus. Tetapi bukan kecakapannya itu menjadikan ia dikenal dan disenangi teman dan tetangganya.
Pygmalion dikenal sebagai orang yang suka berpikiran positif. Ia memandang segala sesuatu dari sudut yang baik. Apabila lapangan tengah kota becek, orang-orang mengomel. Tetapi pygmalion berkata ”Untunglah, lapangan yang lain tidak sebecek ini.”
Ketika ada seorang pembeli patung ngotot menawar-nawar harga, kawan-kawan pygmalion berbisik,”Kikir betul orang itu.” Tetapi pgymalion berkata,” Mungkin orang itu perlu mengeluarkan uang untuk urusan lain yang lebih perlu.” Ketika anak-anak mencuri apel di kebunnya, pygmalion tidak mengumpat. Ia malah merasa iba, ”Kasihan, anak-anak itu kurang mendapat pendidikan dan makanan yang cukup di rumahnya.”
Itulah pola pandang pygmalion. Ia tidak melihat suatu keadaan dari segi buruk, melainkan justru dari segi baik. Ia tidak pernah berpikir buruk tentang orang lain. Sebaliknya, ia mencoba membayangkan hal-hal baik di balik perbuatan buruk orang lain.
Pada suatu hari pygmalion mengukir sebuah patung wanita dari kayu yang sangat halus. Patung itu berukuran sama persis seperti manusia sungguhan. Ketika sudah rampung, patung itu tampak seperti manusia betul. Wajah patung itu tersenyum manis menawan, tubuhnya elok menarik.
Kawan-kawan pygmalion berkata,”Ah, sebagus-bagusnya patung, itu cuma sebuah patung, bukan isterimu.” Tetapi pygmalion memperlakukan patung itu sebagai manusia betulan. Berkali-kali patung itu ditatapnya dan dielusnya. Para dewa yang berada di gunung Olympus memperhatikan dan menghargai sikap pygmalion tersebut. Lalu mereka memutuskan untuk memberikan anugerah kepada pygmalion yaitu mengubah patung tersebut menjadi manusia betulan. Pygmalion hidup bahagia dengan istrinya. Konon istrinya adalah wanita tercantik di seluruh negeri Yunani.
Cerita Pygmalion ini lebih dikenal dengan nama Efek Pygmalion. Intinya adalah apa yang benar-benar kita yakini akan menjadi suatu kenyataan. Seperti yang dikatakan oleh Plato,”Anda adalalah apa yang anda pikirkan.” Bila kita selalu berpikir diri kita bodoh, maka ini akan betul-betul terjadi diri kita menjadi bodoh. Penting juga bagi seorang manager atau pemimpin yang sering meragukan kemampuan anak buahnya untuk menyelesaikan suatu pekerjaan. Otomatis keraguan itu akan menjadi kenyataan.
Mulai dari sekarang kita harus mulai membangun keyakinan dalam diri kita dan membuang seluruh keyakinan yang membatasi kita selama ini. Seperti ragu-ragu, minder, malas, pesimis, pasif, kurang percaya diri, putus asa, rendah hati dll.
Selamat membuktikan Efek Pygmalion dalam kehidupan Anda!
| |